Minggu, 03 Juni 2012

AsKep pada anak dengan DHF


A.    KONSEP DASAR MEDIK

1.      Definisi
Demam haemoragic fever adalah penyakit yang disebabkan virus dengue yang tergolong arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aides   aegypti (betina). (Christantie Effendi, SKp: Perawatan Pasien DHF, 1995, hal 1)


2.      Anatomi Fisiologis
Darah terdiri dari elemen-elemen berbentuk dari plasma dalam jumlah setara. Elemen-elemen berbentuk tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit) plasma terdiri dari  900 air dan 100 berupa elektrolit gas terlarut berbagai produk sisa metabolisme dan zat gizi misalnya gula, asam amino lemak, kolestrol, protein dalam darah misalnya albumin dan imunolobulin ikut menyusun plasma.


3.      Etiologi
Virus dengue yang tergolong arbovirus ini berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitive terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksilat, stabil pada suhu 70 derajat Celsius. Vector utama adalah nyamuk aedes agypti disamping ditemuka pula pada aedea albopictus. Vector ini bersarang di bejana-bejana yang berisi air jernih dan tewar seperti bak mandi, drum penampung, kaleng bekas dan lain-lain.jarak terbang nyamuk aedes aegypti 40-100 meter.
Kasus DHF cenderung meningkat pada musim hujan karena :
1)      Perubahan musim mempengaruhi gigitan nyamuk, puncak gigitan pada siang dan sore hari.
2)      Perubahan musim mempengaruhi manusia, misalnya pada musim hujan lebih sering berdiam diri di rumah.

4.      Patofisiologis
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permeabilitas dinding kapiler  yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler, berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemakonsentrasi,hipoproteinemia,, efusi dan syok.
Hemakonsentrasi menunjukkan adanya kebocoran plasma, dan penting untuk patokan pemberian cairan intra vena.
Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk, kemudian tubuh bereaksi melawan virus dengan membentuk antibody, kompleks virus dengan antibody menimbulkan penurunan aktivitas system komplemen (isi darah)dalam serum yang menyebabkan lepasnya peptida yang berat molekulnya rendah yaitu anafilatoxin, anafilatoxin ini berdaya melepaskan histamin dan merupakan mediator sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah sehingga terjadi kebocoran pembuluh plasma, akibatnya cairan yang mengandung sebagian protein dapat keluar dari intra vascular ke ruang ekstra vascular. Hal inilah yang dapat menyebabkan syok.


5.      Tanda dan Gejala
q  Demam tinggi  mendadak 2-7 hari
q  Rewel
q  Gelisah
q  Mual dan muntah
q  Hepatomegali
q  Trombositopenia (trombosit kurang dari 10.000)
q  Hemakonsentrasi (peningkatan hematokrit lebih dari 20%)
q  Splenomegali (pembesaran Lympha)
q  Tanda-tanda perdarahan, yaitu:
-          Uji tourniquet (rumpled +),
-          Pethekie, purpura, ecchimosis, perdarahan conjunktiva,
-          Epitaksis, perdarahan gusi
-          Hematemesis, melena, hematuri

6.      Tes Diagnostik
1)      Foto thorax : Kemungkinan pleura effusion.
2)      Dengue blood test (DBT) menunjukkan Igm dan Ige positif.
3)      Pemeriksaan darah lengkap, terutama trombosit (mengalami penurunan)


B.     KONSEP DASAR KEPERAWATAN

             I.      Pengkajian
1.      Identitas Pasien
-          nama pasien, orang tua, umur, berat badan tinggi badan, agama.
2.      Informasi Medik

3.      Keadaan Umum
a.       Keadaan umum pasien, tampak sakit ringan, sedang, berat
-          Data dari hasil pengamatan/inspeksi:
§  Pasien ampak lemah
§  Rewel/gelisah
§  Adanya pethice, purpura
§  Adanya epitaksis
b.      Tingkat kesadaran, compos mentis, coma.
c.       Tanda-tanda vital (suhu yang meningkat, nadi, tekanan darah)
d.      Abdomen (adanya kembung, rasa nyeri epigastrium)
4.      Tumbang
-          Dikaji secara umum menurut umur si anak
5.      Nutrisi
-          Sebelum sakit:
§  Bagaimana pola makan pasien , berapa banyak, frekuensi
§  Apakah pasien masih disusui oleh ibu.
-          Selama sakit:
§  Apakah ada keluhan mual dan muntah
§  Berapa banyak jumlah nutrisi yang masuk, frekuensi makan
6.      Eliminasi
-          Sebelum sakit:
§  Apakah BAB setiap hari lancar?
-          Selama sakit:
§  Apakah ada konstipasi, melena, menccret
§  Sudah berapa lama pasien tidak BAB
7.      Tidur dan istireahat
-          Sebelum sakit:
§  Bagaimana kebiasaan tidur pasien
§  Berapa jumlah jam tidur dan istirahat pasien
-          Selama sakit:
§  Adakah defisit jam tidur pasien

          II.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan secara teori yang muncul pada gangguan sistem sirkulasi metabolik : DHF adalah :
1.      Hypertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue..
2.      Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik yang berhubungan denga perdarahan hebat.
3.      Nyeri yang berhubungan dengan mekanisme patologis.
4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang tak adekuat.
5.      Risiko tinggi kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan berpindahnya cairan dari intravaskular ke ekstravaskular.

       III.      Rencana Keperawatan
DP I Hypertermi yang berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
Tujuan : suhu tubuh kembali normal
Sasaran :
        Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh
        TTV dalam batas normal, suhu 36-37
        Tampak tidak gelisah
        Badan teraba tidak panas
Intervensi :
1.      Observasi suhu setiap 4 jam
R / : suhu 38,9oC – 41oC menunjukkan proses penyakit infeksi akut
2.      Berikan kompres hangat
R / : Dapat membantu mengurangi panas
3.      Berikan pasien minum yang banyak, 2-2,5 L/hari.
R / : Untuk mencegah terjadinya dehidrasi.
4.      Anjurkan pasien untuk bedrest total dan kurangi aktivitas.
R / : istirahat untuk mengurangi metabolisme tubuh sehingga mencegah peningkatan suhu tubuh.
5.      Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian antipiretik dan antibiotik
R / : Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.

DP II  Resiko tinggi terjadinya syok hipovolemik yang berhubungan dengan perdarahan hebat.
Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi.
Sasaran :
        Tanda-tanda vital dalam batas nomal.
        Keadaan umum baik, keasadaran compos mentis.
Intervensi :
1.      Monitor keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien setiap 2-4 jam.
 R / : penurunan tekanan darah dan nadi dapat menunjukkan hipovolumia, peningkatan        pernapasan menunjukkan hipoxia jairngan.
2.      Monitor tanda-tanda perdarahan (pethekie, ekimosis, melena, epitaksis, hematemesis, hematuri.
R / : perdarahan yang cepat diketahui dapat segera diatasi sehingga pasien  tidak sampai ke tahap syok.
3.      Cek dan monitor Hb, dan Ht, trombosit tiap hari.
R / : untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah.

DP III. Nyeri yang berhubungan dengan mekanisme patologis.
Tujuan : nyeri berkurang sampai dengan teratasi setelah dilakukan tindakan.
Sasaran :
-          Keluhan nyeri berkurang.
-          Pasien tampak rileks, tidak rewel
-          TTV dalam batas normal

Intervensi :
1.      Kaji keluhan nyeri meliputi, intensitas (skala 0-10) frekuensi dan lokasi nyeri.
R / : berat ringannya nyeri dapat diidentifikasi sehinga memudahkan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
2.      Observasi tanda-tanda vital tiap 2-4 jam.
R / : perubahan tanda-tanda vital menunjukkan adanya nyeri.
3.      Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.
R / : posisi yang nyaman dan ruangan yang tenang dapat mengurangi nyeri pasien.
4.      Ajarkan dan anjurkan keluarga dan pasien untuk melakukan tehnik relaksasi tarik nafas dalam.
R / : nafas dalam dapat merelaksasi otot-otot sehingga dapat mengurangi nyeri.
5.      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian  terapi analgetik.
R / : analgetik dapat menurunkan ambang nyeri.

DP IV.  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake yang kurang.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi setelah dilakukan tindakan.
Sasaran :
-          Pasien dapat menghabiskan  sesuai dengan porsi yang diberikan.
-          Keluhan mual dan muntah serta anoreksia berkurang
-          Pasien dapat mempertahankan berat badan ideal atau meningkatkan berat badan.
-          Pasien tampak segar.
Intervensi :
1.      Kaji adanya keluhan mual, muntah, dan anoreksia.
2.      R / : membantu menentukan tindakan selanjutnya yang tepat.
3.      timbang berat badan 5x/minggu bila memungkinkan dan catat porsi makanan yang dihabiskan. R / : untuk mengetahui status gizi pasien.
4.      Jelaskan kepada pasien  dan orang tua mengenai manfaat makanan terutama pada saat sakit.
R / : meningkatkan pengetahuan pasien sehingga meningkatkan motivasi pasien untuk makan.
5.      Berikan makanan yang mudah ditelan, seperti bubur, tim, dan hidangkan dalam keadaan hangat.
R / : mengurangi beban kerja lambung dan meningkatkan asupan.
6.      Libatkan orang tua dalam pemberian makanan pada porsi kecil tapi sering.
R / : makanan porsi kecil dan sering menguragi mual, dan muntah.
7.      Kolaborasi dalam pemberian  nutrisi parenteral dan pemberian terapi anti emetik dan antasida.
R / : terapi parenteral sangat baik jika nutrisi peroral sangat kurang,  antiemetik untuk   mengatasi mual.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar